Pemilik DFSK Glory 580 Somasi APM, Cacat Produksi Atau Ketidakpahaman Pemilik Soal Karakter Mobil?

Yongki Sanjaya · 4 Des 2020 19:00

Pemilik DFSK Glory 580 melakukan somasi kepada agen pemegang merek karena dianggap mobilnya cacat produksi.

Sejumlah konsumen pengguna DFSK Glory 580 Turbo CVT produksi 2018 mengajukan surat gugatan atau somasi ke PT Sokonindo Automobile sebagai agen Pemegang Merek (APM) DFSK di Indonesia. Ketujuh pemilik ini melayangkan gugatan melalui melalui kuasa hukum David Tobing, yang teregister secara e-court (online) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan Nomor register: PN JKT.SEL-122020BS2 tanggal 3 Desember 2020.

Dalam surat gugatannya, ketujuh konsumen DFSK tersebut mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap PT Sokonindo Automobile selaku ATPM dan produsen. Dalam surat gugatannya, para pemilik ini mengaku kendaraan mereka mengalami kendala pada waktu berjalan di tanjakan dan/atau saat berada di jalan kemacetan yang menanjak (stop & go), baik pada saat digunakan luar kota ataupun di parkiran mall.

Sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, para konsumen telah melaporkan serta melakukan perbaikan di bengkel resmi DFSK. Namun sampai saat ini, kendaraan para konsumen masih mengalami kendala yang sama.

"Klien kami membeli mobil DFSK Glory 580 Turbo CVT karena tertarik pada spesifikasi serta fasilitas yang ditawarkan, apalagi mobil ini memiliki turbo yang seharusnya memiliki tenaga yang lebih baik dibanding mobil sekelasnya yang tidak memiliki turbo, tetapi klien kami mengalami gagal tanjak rata-rata lebih dari 2 kali. Hal ini membuat klien kami menjadi takut menggunakan kendaraan untuk bepergian atau pada saat berada di jalanan yang menanjak," jelas David dalam keterangan resminya.

Somasi Dari Konsumen Pemilik DFSK Glory 580, Indikasi Cacat Produksi? 

Menurut David, ini adalah bukti bahwa kendaraan para konsumen yang diproduksi dan dijual oleh DFSK adalah kendaraan yang mengandung cacat tersembunyi. Hal tersebut sangatlah berbahaya bagi para konsumen karena dapat mengakibatkan kecelakaan yang fatal pada saat para konsumen mengendarainya dan dapat membahayakan pihak lain.

"DFSK telah melanggar Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Peraturan Menteri Perhubunggan Republik Indonesia Nomor PM 33 Tahun 2018, Tentang Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor Pasal 18 point b dan c mengenai uji untuk kerja mesin serta uji kemampuan jalan, dimana DFSK dilarang memperdagangkan barang yang mengandung cacat tersembunyi dan wajib bertanggung jawab atas kerugian para konsumen," tegas David.

Dalam petitumnya, para konsumen meminta agar Majelis Hakim menghukum DFSK untuk bertanggung jawab memberikan ganti rugi material. Nominalnya sebesar Rp1.959.000.000,00 (satu miliar sembilan ratus lima puluh sembilan juta rupiah) yang merupakan total harga pembelian kendaraan para konsumen. Kemudian ganti rugi immaterial sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) kepada masing-masing para konsumen.

Pihak DFSK yang diwakili oleh PT Sokonindo Automobile sebagai agen Pemegang Merek belum mengonfirmasi lebih lanjut soal somasi dari para konsumennya ini. Dalam kasus ini, memang harus ditelaah lebih lanjut apakah benar cacat produksi, atau memang karakter mobil yang tidak cocok dengan keinginan pemilik.

Bila dilihat dari spesifikasinya, DFSK Glory 580 sejatinya bukan mobil SUV yang payah. Mobil China ini dibekali mesin SFG15T 1.498cc turbocharger yang mampu menghasilkan daya hingga 150 Tk dengan torsi maksimum 220 Nm pada putaran 1.800 sampai 4.000 rpm.

Mesin tersebut, dikawinkan dengan transmisi CVT yang menyalurkan daya dengan penggerak roda depan (FWD). Berdasarkan pengalaman awak media yang pernah mencoba mobil ini, memang DFSK Glory 580 punya kelemahan di angkatan awal yang kadang lemot.

Karakter Mesin DFSK Glory 580 Sering Lemot

Keluhan yang disebut oleh pemilik DFSK Glory 580 di atas ini tampaknya memang jadi ciri khas mobil DFSK di Indonesia. Gejala tersebut juga terjadi pada Glory 560 namun tidak separah di Glory 580.

Untuk angkatan awal, memang DFSK Glory 580 ini kurang responsif. Ada jeda saat kita menginjak gas dengan tenaga mesin yang keluar. Jadi, lag ini memang cukup menjengkelkan terutama di tanjakan.

Lemot ini bisa berpotensi membuat mobil melorot karena waktu menahan beban dari HHC uphill assist sudah habis. Jadi memang, pengemudi dituntut harus selalu sigap dan responsif untuk mengantisipasi hal ini. Istilahnya, kita harus sedikit kickdown setelah berhenti agak lama di tanjakan supaya tenaganya langsung mengisi.

Somasi Pemilik DFSK Glory 580, Cuma Cari Untung Sepihak?

Patut ditelusuri lebih lanjut soal somasi ini dari segi kondisi kendaraan dan juga jawaban dari pihak DFSK. Klaim sepihak ini bisa jadi memang karena 'cacat produksi' sebagaimana klaim pemilik, atau mungkin ajang cari untung sepihak. 

Masih ada beberapa poin lain yang jadi penyebab Glory 580 performanya payah di tanjakan. Dalam somasi tadi, pasti tidak disebutkan soal latar belakang bagaimana perawatan dan kondisi tanjakan yang dilalui.

Yang patut d cermati dr narasi tersebut yaitu jenis BBM yang digunakan. Kemudian, apakah mobil ini selalu service rutin atau tidak (dibawa ke beres hanya pada saat claim garansi). 

Poin lainnya yang perlu kita cermati yaitu seberapa curam tanjakan yang dilalui, atau faktor human error selaku driver yang mungkin belum terbiasa dengan teknologi DBWnya CVT dari DFSK. Fitur ini seperti halnya di Wuling, kadang terjadi jeda power. 

Kesimpulan 

Masalah somasi ini perlu kita sikapi secara objektif. Untuk itu, pihak DFSK juga perlu angkat bicara mengenai somasi ini terhadap upaya yang sudah dilakukan selama ini. 

Jika semua sudah memenuhi syarat, maka dari pihak DFSK seharusnya melakukan investigasi. Setelah investigasi, PT Sokonindo Automobile perlu segera mengumumkan hasil temuannya. Apakah memang terjadi unit gagal produksi atau hanya human error dari si pemilik?.

Untuk itu, kita jangan hanya melakukan judgement dari sebuah berita. Jadi, kita bisa obyektif melihat kasus ini apakah human error atau memang cacat produksi.

Komentar

Mobil Terbaru