Premium Batal Dihapus, Toyota Agya Dkk Sebaiknya Tetap Minum Pertamax

Yongki Sanjaya · 23 Des, 2020 20:00

Premium Batal Dihapus, Toyota Agya Dkk Sebaiknya Tetap Minum Pertamax 01

Rencana penghapusan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium dengan nilai oktan 88 sempat mengemuka beberapa waktu lalu. Namun, PT Pertamina (Persero) secara resmi mengumumkan masih akan tetap menyalurkan Premium pada 2021 mendatang. Namun demikian, bahan bakar ini sebaiknya tidak dipakai untuk mobil LCGC seperti Toyota Agya

Dikutip dari CNBC Indonesia, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) telah menetapkan kuota penyaluran Premium sebesar 10 juta kilo liter (kl) oleh Pertamina pada 2021. Namun demikian, kuota Premium sebanyak 10 juta kl pada tahun depan itu menurutnya bisa berpotensi dikurangi karena Pertamina menjalankan Program Langit Biru.

Namun jangan keburu senang dulu, karena bensin jenis Premium ini sebenarnya ditujukan untuk mobil lawas dan beberapa jenis sepeda motor. Untuk mobil baru terutama LCGC, direkomendasikan memakai bensin dengan RON 92 setara Pertamax. Untuk itu sebaiknya hindari memakai bensin premium apabila cuma kejar harga murah.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

"Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) atau BBM Penugasan diputuskan dalam sidang komite sebesar 10 juta kl. Namun ada Program Langit Biru Pertamina, sehingga ada usulan dari Pertamina untuk dikurangi," ucap Direktur BBM BPH Migas Patuan Alfon Simanjuntak.

Rencana Premium Dihapus Muncul Dari Kementerian Lingkungan Hidup 

Premium Batal Dihapus, Toyota Agya Dkk Sebaiknya Tetap Minum Pertamax 01

Sebelumnya, rencana penghapusan Premium sempat disampaikan oleh MR. Karliansyah, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam sebuah diskusi tentang BBM ramah lingkungan.

Ini mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.20 tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O, bensin yang harus dijual ke publik minimum harus mengandung RON 91. Hal tersebut tercantum dalam Pasal 3 ayat 2 Peraturan Menteri LHK.

Jika mengacu pada Permen LHK tersebut, mestinya bensin sekelas Premium dan Pertalite sudah tidak lagi dijual di Indonesia. Namun pada kenyataannya, baik Pertamina ataupun merek lain seperti Shell, Vivo, BP dan sebagainya masih menjual bensin RON 92 ke bawah. 

Usulan soal penghapusan Premium oleh Tim Anti Mafia Migas sebenarnya telah digagas sejak 2015 lalu. Ini karena Premium dinilai tidak hanya beremisi tinggi, tapi impornya juga memicu bahaya moral (moral hazard). Maksudnya, ada celah yang menjadi sasaran empuk bagi Mafia Migas berburu rente.

Pengguna Bensin Ron 91 Ke Bawah Mayoritas Negara Miskin? 

Premium Batal Dihapus, Toyota Agya Dkk Sebaiknya Tetap Minum Pertamax 02

Dalam hal kualitas bahan bakar, kita perlu mencontoh Malaysia yang berani menyediakan bensin dengan RON 95 ke atas saja. Saat ini hanya ada tujuh negara di dunia yang masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dengan RON 90 ke bawah, termasuk Indonesia. 

Bensin dengan kadar oktan rendah dinilai tidak ramah lingkungan karena emisi yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan bensin berkadar oktan tinggi. Selain Indonesia, masih ada enam negara lainnya yaitu Bangladesh, Colombia, Mesir, Mongolia, Ukraina, dan Uzbekistan.

Untuk mobil LCGC seperti Toyota Agya, mesinnya memiliki kompresi 10:1. Artinya mobil ini sudah tidak cocok memakai bensin oktan 90 seperti Pertalite apalagi 88 seperti Premium. 

Bahan bakar yang ideal dari angka kompresi tersebut yaitu dengan oktan 92 sejenis Pertamax dan kawan-kawan. Bila nekat untuk selalu memakai bensin premium untuk jangka waktu yang lama, membuat mesin juga lebih cepat servis besar. 

Risiko Memakai Premium di Toyota Agya, Bikin Mesin Gampang Jebol? 

Premium Batal Dihapus, Toyota Agya Dkk Sebaiknya Tetap Minum Pertamax 03

Jangan sampai memaksakan untuk isi bensin murah, karena kaitannya antara nilai oktan dan kompresi. karena semakin tinggi kompresi maka butuh bahan bakar beroktan tinggi juga supaya pembakarannya pas.

Kalau kamu menganggap memakai bensin oktan tinggi seperti Pertamax itu bikin tekor, mungkin kamu perlu berpikir ulang. Memang harga Pertamax lebih mahal dari Pertalite, tapi pertamax membuat mesin lebih sehat.

Artinya risiko mesin rusak karena bahan bakar tidak secepat jika menggunakan Pertalite atau Premium. Perlu kalian tahu, biaya perbaikan servis besar akibat buruknya kualitas bensin itu lebih mahal dibandingkan selisih harga yang kamu dapat antara Pertamax dengan Premium.

Kesimpulan

Masyarakat kalangan bawah bisa bernafas lega karena bensin Premium tidak jadi dihapus. Lebih menyenangkan lagi kalau ternyata program Pertalite Harga Premium terus diperpanjang supaya mendorong orang beralih memakai bensin yang lebih bagus.

Namun, jangan salah gunakan ketersediaan premium ini untuk 'mobil murah'. Karena sejatinya mobil di segmen LCGC jenis mesinnya cukup modern dengan kompresi tinggi. Apabila dalam kondisi terpaksa, boleh memakai Premium asalkan jangan keterusan.

 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Komentar

20% lebih tinggi dari harga jual rata-rata

Toyota 2020 Agya 1.0L G M/T

Upgrade

Tambahkan mobil Anda

Pemeriksaan mobil dan pelayanan transaksi hanya tersedia di Pulau Jawa

Mobil Terbaru