Toyota Raize 2021 di Indonesia Bakal Pakai Mesin 1.2 Liter, Apa Hebatnya Milik Calya dan Agya Ini? 

Yongki Sanjaya · 22 Feb 2021 16:00

Sosok Toyota Raize menjadi buah bibir dalam beberapa waktu terakhir. Pasalnya, compact crossover ini kabarnya akan masuk ke Indonesia. Kabar tersebut diperkuat oleh catatan NJKB dari Toyota Raize yang terdaftar memakai mesin 1.0 turbo dan 1.2 liter.

Fakta ini tentu membuat kita semakin penasaran, karena muncul pilihan mesin 1.2 liter dengan transmisi manual dan metik CVT. Bila mengikuti nomenklatur mesin, maka pilihan 1.2 liter ini sudah terlebih dahulu digunakan oleh mobil LCGC Toyota, yaitu Calya dan Agya. 

Hal ini mengindikasikan kalau nantinya Toyota Raize juga akan memakai mesin 3NR-VE yang serupa. Namun demikian, catatan NJKB untuk Daihatsu Rocky tidak secara eksplisit menjelaskan jenis mesin yang digunakan.

Artinya, baik Toyota Raize ataupun Daihatsu Rocky akan memakai dua opsi mesin, karena untuk mobil segmen C ini penanggung jawab produksinya ialah Daihatsu, termasuk juga di Indonesia. Adanya opsi mesin 1.2 liter tentunya membuat harga Toyota Raize jadi lebih terjangkau. 

Mengacu pada dokumen Kemendagri soal NJKB, Toyota Raize akan ditawarkan dalam 6 pilihan tipe, yakni 1.0T S CVT, 1.0 X CVTTSS, 1.0T G CVT, 1.0T G M/T, 1.2 G CVT, dan 1.2 G M/T. Sementara untuk NJKB-nya, mulai dari Rp 146 juta, hingga Rp 198 juta.

Perlu diketahui NJKB merupakan nilai dasar yang bukan merupakan nilai jual ke konsumen (on the road/OTR). Untuk mengetahui harga jualnya nanti, kamu perlu menambahkannya dengan beberapa komponen pajak lainnya.

Dalam pembelian mobil baru, konsumen juga dikenakan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB), Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Berdasarkan estimasi kami, harga on the road dari Toyota Raize 1.2 liter ini yaitu Rp 194 jutaan untuk tipe manual dan Rp 204 juta untuk tipe CVT. Masih cukup terjangkau dan siap bersaing dengan Suzuki Ignis

Mesin 1.2 Liter Untuk Toyota Raize, Andalan LCGC Toyota

Berbeda dengan Daihatsu, Toyota hanya menyediakan opsi mesin 1.2 liter dengan kode 3NR-VE pada lini LCGC mereka. Mesin ini dapat menghasilkan tenaga puncak 88 PS pada 6.000 rpm dan torsi maksimal 107 Nm pada 4.200 rpm.

Keunggulan Mesin 3NR-VE 

Mesin 3NR-VE ini berfokus pada karakter performa yang tinggi dan irit bahan bakar dari sebuah mesin kecil. Mesin ini sudah sesuai dengan anjuran pemerintah yang memiliki konsumsi BBM minimum di angka 20 km/liter. 

Desainnya memakai rocker arm yang mengaplikasikan model roller. Rolernya dibuat untuk mereduksi gesekan yang timbul saat camshaft berputar. Dengan bidang gesek yang minim, maka perputaran di mesin lebih enteng. 

Kemudian, Toyota membekalinya dengan sistem dual VVT-i, yaitu dimana ECU mengatur durasi bukaan klep dengan menghitung putaran mesin, beban mesin dan temperatur mesin. Tujuannya untuk peningkatan efisiensi volumetrik pada mesin. Alhasil tenaga dan torsi jadi lebih besar, tapi konsumsi bahan bakar irit. 

Lebih lanjut, desain kubah dari cylinder head (squish) pada mesin 3NR-VE ini, squish-nya dibuat lebih lancip. Dengan desain baru ini, diharapkan dapat mereduksi knocking. 

Karena kapasitas mesinnya kecil, maka lubang intake-nya dibuat lebih panjang. Harapan dari ubahan ini, mesin dapat menghasilkan torsi maksimum saat mesin bekerja di putaran bawah dan menengah.

Kelemahan Mesin 1.2 Liter, Cuma Cocok Untuk Jalan Perkotaan 

LCGC ini masuk kategori city car walaupun untuk Toyota Calya bentuknya seperti MPV. Ini berarti kemampuan mesin 3NR-VE idealnya untuk pengendaraan di dalam kota. Tenaganya tidak terlalu baik ketika membawa banyak penumpang berikut barang bawaan. 

Bila mengacu regulasi maka mesin 3NR-VE ini memiliki standar bahan bakar memakai RON 92. Bila berharap memiliki power maksimal, tampaknya hal itu merupakan hal yang sulit.

Sebab mesin 3NR-VE kapasitasnya kecil. Tentu saja, hal tersebut menjadi kekurangan yang cukup menonjol. Dengan mesin yang berkapasitas kecil dan torsinya yang pas-pasan, seakan opsi mesin 1.2 liter ini hanya jadi pelengkap. 

Apalagi torsi puncaknya diraih di angka yang sangat tinggi. Ini membuat mesin pada saat dikendarai di medan semi off road tentunya tarikan bawahnya kurang galak. 

 

Komentar