Berniat Beli Mobil Listrik, Apakah Benar-benar Ramah Lingkungan atau Tidak?

Yongki Sanjaya · 20 Sep, 2022 13:30

Berniat Beli Mobil Listrik, Apakah Benar-benar Ramah Lingkungan atau Tidak? 01

Pemerintah Indonesia secara serius ingin mengurangi dampak risiko emisi karbonn yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Salah satu caranya yaitu dengan melakukan upgrade kendaraan dinas aparatur sipil dan militer menjadi mobil listrik berbasis baterai mulai 2023 mendatang. 

Mobil listrik (EV) merupakan konsep yang relatif baru dalam dunia industri otomotif. Mobil listrik seperti Nissan Leaf, Ford Focus Electric atau Tesla Model S, Chevrolet Volt adalah cara terbaik bagi Anda untuk tidak hanya menghemat uang tetapi juga membantu berkontribusi terhadap lingkungan yang sehat dan stabil.

Mobil konvensional sejauh ini menghasilkan banyak emisi karbon yang dikeluarkan ke atmosfer alami kita, membuat kita rentan terhadap hal-hal seperti polusi dan gas rumah kaca. Untuk membantu secara positif lingkungan tempat kita tinggal, mobil listrik dinilai sebagai langkah maju yang baik.

window.googletag = window.googletag || {cmd: []}; googletag.cmd.push(function() { googletag.defineSlot('/22557728108/ID_Article_Middle_leaderboard', [ 728, 90 ], 'div-gpt-ad-1649907777923-0').addService(googletag.pubads()); googletag.pubads().enableSingleRequest(); googletag.pubads().collapseEmptyDivs(); googletag.enableServices(); });
googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-ad-1649907777923-0'); });

Berniat Beli Mobil Listrik, Apakah Benar-benar Ramah Lingkungan atau Tidak? 01

Namun, tahukah kamu kalau mobil listrik belum tentu ramah lingkungan seperti gembar-gembornya selama ini?

Mengapa demikian? Padahal mobilnya tidak menghasilkan emisi? Tentu itu yang ada di benak kalian semua alasan mobil listrik sampai disebut tidak ramah lingkungan. Sebenarnya bukan dari sisi produknya yang tidak ramah lingkungan, melainkan proses produksi dan pengolahan bahan baku baterai yang punya risiko tinggi.

Dikutip dari ypte.org.uk, proses produksi baterai mobil listrik ini membutuhkan logam langka. Baterai untuk mobil listrik menggunakan banyak lithium, logam paling ringan dan elemen padat paling ringan dalam kondisi normal. 

Chili menghasilkan jumlah lithium terbesar (8.800 ton per tahun), disusul negara produsen besar lainnya termasuk Argentina dan Cina, sementara Bolivia memiliki cadangan terbesar yang diketahui di dunia. Logam lain yang digunakan dalam mobil listrik termasuk tembaga, kobalt, aluminium, nikel dan kadang-kadang mangan, bersama dengan grafit non-logam konduktif. 

Ada deposit kobalt yang kaya di negara-negara seperti Republik Demokratik Kongo, di mana ia terletak di permukaan dan diambil oleh penambang yang mencakup wanita dan anak-anak. Cobalt beracun bagi manusia dan sebagian besar penambang ini bekerja dengan sedikit atau tanpa peralatan pelindung.

Produksi Mobil Listrik Menghasilkan Jauh Lebih Banyak Emisi

Berniat Beli Mobil Listrik, Apakah Benar-benar Ramah Lingkungan atau Tidak? 02

Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang berapa banyak emisi yang dipancarkan selama pembuatan mobil listrik, Anda harus melihat bagaimana komponennya bersumber dan dibuat. Bahan baku pembuatan mobil harus ditambang, dan proses penambangan menghasilkan banyak emisi gas. Kemudian bahan mentah harus disempurnakan sebelum dapat digunakan, yang lagi-lagi mengeluarkan lebih banyak emisi sisa produksi, dan diperparah dengan emisi yang dikeluarkan dalam proses manufaktur.

Supaya adil, kita bisa membandingkan tingkat emisi yang dihasilkan dalam keseluruhan proses manufaktur mobil listrik dengan mobil konvensional. 

Baca juga:

Harga BBM Naik, Mobil Listrik di Indonesia Bisa Makin Laris Manis

DFSK Siapkan Mobil Listrik Terbarunya Untuk Beberapa Tahun ke Depan, Mini EV Siap Tantang Wuling Air ev?

Wajib Beralih ke Mobil Listrik, Ini 5 Kendaraan yang Bakal Dilirik Jadi Kendaraan Dinas Pemerintah Tahun Depan

Emisi gas juga dihasilkan saat membuat mobil berbahan bakar bensin atau solar. Memperhitungkan keseluruhan proses produksi, membuat mobil berbahan bakar bensin atau solar melepaskan sekitar 7 hingga 10 ton CO2. Membuat mobil listrik melepaskan jumlah CO2 yang kira-kira sama dengan mobil konvensional, tetapi kemudian Anda harus menambahkan jumlah emisi dari proses produksi baterai. 

Perkiraan menunjukkan bahwa sejumlah 150 kilogram emisi CO2 dilepaskan untuk setiap 1 kiloWatt hour (kWh) kapasitas baterai. Agar mobil listrik memiliki jangkauan yang layak (katakanlah 450 kilometer), dibutuhkan baterai dengan kapasitas setidaknya 60kWh. 
Ini berarti bahwa 9 ton CO2 lebih lanjut akan dikeluarkan selama pembuatan mobil listrik, sehingga total emisi CO2 adalah 16-19 ton. Jadi pada titik ini, mobil listrik tampaknya lebih buruk bagi lingkungan daripada mobil berbahan bakar fosil.

Pembangkit Listrik Tenaga Batubara Memperparah Emisi yang Dihasilkan

Berniat Beli Mobil Listrik, Apakah Benar-benar Ramah Lingkungan atau Tidak? 03

Ada beragam sumber daya energi yang dapat digunakan untuk menciptakan energi listrik. Bisa itu dari PLTA, PLTU atau bahkan pembangkit listrik tenaga batu bara atau juga tenaga diesel. Untuk dua jenis sumber daya terakhir, jelas bakal menghasilkan emisi saat digunakan untuk memproduksi daya listrik. 

Pembangkit listrik tenaga batu bara memancarkan 800-850 gram CO2 per kWh (perkiraan terbaru menunjukkan ini mungkin lebih rendah, pada 650g per kWh), sementara pembangkit listrik berbahan bakar gas yang lebih bersih memancarkan 350-400g CO2 per kWh.

Pemerintah maupun perusahaan negara penyedia energi listrik diharapkan mampu menciptakan sumber produksi listrik yang ramah lingkungan. Misalnya saja Menggunakan energi terbarukan, seperti panel surya atau kincir angin supayadampak negatifnya terhadap lingkungan jauh lebih rendah daripada jika diisi menggunakan listrik dari pembangkit listrik tenaga batu bara.

window.googletag = window.googletag || {cmd: []}; googletag.cmd.push(function() { googletag.defineSlot('/22557728108/ID_Article_Bottom_leaderboard', [ 728, 90 ], 'div-gpt-ad-1649907953835-0').addService(googletag.pubads()); googletag.pubads().enableSingleRequest(); googletag.pubads().collapseEmptyDivs(); googletag.enableServices(); });
googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-ad-1649907953835-0'); });

Yongki Sanjaya

Editor

Berpengalaman di beberapa media online. Bermula menjadi reporter otomotif di situs yang lain hingga kini menjadi Editor di Autofun Indonesia. Penghobi mobil lawas dan anak 90-an banget. FB:Yongki Sanjaya Putra

window._taboola = window._taboola || []; _taboola.push({ mode: 'thumbnails-stream-2x2-desk', container: 'taboola-stream-widget-thumbnails-desktop', placement: 'Stream Widget Thumbnails Desktop', target_type: 'mix' });

Komentar

Mobil Terbaru